Pembentukan Perilaku

PEMBENTUKAN PERILAKU
Oleh : Yetti Wira Citerawati SY

1.     PENDAHULUAN

Jika kita membahas kembali kerangka (Blum, 1974) tentang status kesehatan, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan yakni :
1.    Lingkungan (fisik, ekonomi, sosial, budaya)
2.    Perilaku
3.    Pelayanan kesehatan
4.    Herediter

Jelaslah disini, bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi status kesehatan manusia adalah perilaku. Perilaku terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama yakni :
a.    Respons (Faktor dari dalam diri /internal) seperti : perhatian, pengamatan, persepsi, inteligensi,motivasi, fantasi, dan sugesti)
b.    Stimulus (Faktor dari luar diri/eksternal) seperti : lingkungan (fisik dan non fisik : sosial, budaya). Berdasarkan penelitian faktor

eksternal yang paling besar perannanya dalam membentuk perilaku manusia adalah faktor  sosbud. Sosial meliputi : struktur sosial, pranata sosial dan permasalahan-permasalahan sosial. Budaya meliputi : nilai-nilai, adat istiadat, kepercayaan, kebiasaan masyarakat dan tradisi.

Dari kedua faktor utama tersebut, untuk mempelajari perilaku membutuhkan tiga cabang ilmu yaitu sosiologi, antropologi dan psikologi, yang sering disebut dengan behavioral science.
Margono S (1998) mengemukakan bahwa perilaku terdiri dari tiga domain yang meliputi : pertama, domain perilaku pengetahuan (knowing behavior), kedua, domain perilaku sikap (feeling behavior) dan ketiga, domain perilaku keterampilan (doing behavior). Apabila pengertian perilaku ini lebih disederhanakan maka perilaku dapat dibagi menjadi 2 unsur yang saling berhubungan satu sama lain yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Menurut Lawrence Green (1980), Prilaku dibentuk oleh 3 faktor antara lain:

  1. Faktor pendukung (predisposing factors), mencakup: pengetahuan, sikap, tradisi, kepercayaan/keyakinan, sistem nilai, pendidikan, sosial ekonomi, dan sebagainya.
  2. Faktor pemungkin(enambling factors), mencakup: fasilitas kesehatan, misal: spal, air bersih, pembuangan sampah, mck, makanan bergizi, dan sebagainya. Termasuk juga tempat pelayanan kesehatan seperti RS, poliklinik, puskesmas, RS, posyandu, polindes, bides, dokter, perawat dan sebagainya.
  3. Faktor penguat (reinforcing factors), mencakup: sikap dan perilaku: toma, toga, petugas kesehatan, Kebijakan/peraturan/UU, LSM.

2.    PENGERTIAN PERILAKU

Perilaku dari aspek biologis  diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan. Aktivitas tersebut ada yang dapat diamati secara langsung dan tidak langsung. Menurut Ensiklopedia Amerika perilaku diartikan sebagai suatu aksi atau reaksi organisme terhadap lingkungannya. Robert Kwick (1974) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari.
Skinner (1938) dalam Soekidjo Notoadmodjo, 2005 mendefinisikan perilaku sebagai respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian perilaku manusia terjadi melalui proses: StimulusOrganismerespons, sehingga teori ini disebut dengan teori “S-O-R”.  Selanjutnya teori skinner menjelaskan ada dua jenis respon yaitu :

  1. Respondent respons atau refleksif, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut dengan elicting stimuli, karena menimbulkan reaksi-raksi yang relatif tetap.
  2. Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan yang lain. Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer , karena berfungsi untuk memperkuat respons.

Berdasarkan beberapa teori di atas, dapat diuraikan bahwa Perilaku adalah keseluruhan ( totalitas ) pemahaman dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara faktor internal dan eksternal.

3.    PENGELOMPOKKAN PERILAKU
Berdasarkan teori SOR tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi :

  1. Perilaku tertutup (Covert behavior) : Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati oleh orang lain (dari luar) secara jelas.
  2. Perilaku terbuka (Overt behavior) : Perilaku terbuka terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut sudah berupa tindakan, atau praktik ini dapat diamati oleh orang lain dari luar atau observable behavior.

Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons ini berbentuk 2 macam, yakni :

  1. Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. Contoh lain seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana meskipun ia sendiri tidak ikut keluarga berencana. Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya imunisasi dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behaviour).
  2. Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua sudah ikut keluarga berencana dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut overt behaviour.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap adalah merupakan respons seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat terselubung dan disebut covert behaviour. Sedangkan tindakan nyata seseorang sebagai respons seseorang terhadap stimulus (practice) adalah merupakan overt behaviour.

4.    MEKANISME PEMBENTUKAN PERILAKU

Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme:

1.    Menurut Aliran Behaviorisme

Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut :   S > R atau S > O > R
S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia).
Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini :
W > S > O > R > W

Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :
1.   Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
2. Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya)
Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.

Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.
Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O), secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku.

Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut:   W > S > Ow > R > W

Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.
Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), –meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya–. berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).

2.     Menurut Aliran Holistik (humanisme)

Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Berdasarkan dua aliran tersebut dapat disimpulkan adanya urutan terjadinya perilaku sebagai berikut :
SKEMA PERILAKU

Dari skema tersebut dapat dijelaskan bahwa perilaku terjadi diawali dengan adanya pengalaman-pengalaman seseorang serta faktor-faktor diluar orang tersebut (lingkungan), baik fisik maupun non fisik. Kemudian pengalaman dan lingkungan tersebut diketahui, dipersepsikan, diyakini dan sebagainya, sehingga menimbulkan motivasi, niat untuk bertindak, dan akhirnya terjadilah perwujudan niat tersebut yang berupa perilaku.

5.    PROSEDUR PEMBENTUKAN PERILAKU
Prosedur pembentukan perilaku dalam operant conditioning ini menurut Skinner adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforcer      berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi perilaku yang akan dibentuk.
  2. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang     membentuk perilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-komponen     tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya perilaku yang dimaksud.
  3. Dengan menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-    tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-masing     komponen tersebut.
  4. Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen yang     telah tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan maka hadiahnya     diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen atau perilaku (tindakan)     tersebut cenderung akan sering dilakukan. Kalau perilaku ini sudah terbentuk kemudian dilakukan komponen (perilaku) yang kedua, diberi hadiah (komponen pertama tidak memerlukan hadiah lagi), demikian berulang-ulang sampai komponen kedua terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga,keempat, dan selanjutnya sampai seluruh perilaku yang diharapkan terbentuk.

6.    PERILAKU KESEHATAN

Perilaku kesehatan merupakan respon seseorang atau organisme terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dalam batasan ini perilaku kesehatan dapat diklasifikasi menjadi tiga kelompok, yaitu :

  1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance) : Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
  2. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau     sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita     penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati     sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
  3. Perilaku kesehatan lingkungan : Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan, balk lingkungan fisik, maupun     sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi     kesehatannya.

Becker, (1979), membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan, diantaranya :

 

  1. Perilaku hidup sehat : Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya, yang mencakup makan dengan menu seimbang, olah raga teratur, tidak merokok, tidak minum-minuman keras dan narkoba. Istirahat cukup, mengendalikan stress, dan perilaku atau gaga hidup lain yang positif bagi kesehatan.
  2. Perilaku sakit (illness behavior). Perilaku sakit ini mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya.
  3. Perilaku peran sakit (the sick role behavior)

Dari segi sosiologi, orang sakit (pasien) mempunyai peran, yang mencakup hak-hak orang sakit (right) dan kewajiban sebagai orang sakit (obligation).
Beberapa teori dan model perilaku kesehatan, diantaranya:

1.    Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model)
Rosenstock (1960) dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam perilaku kesehatan menggunakan pendekatan Model Kepercayaan Kesehatan (The Health Belief Model) L). Dalam perkembangannya model ini oleh Becker (1974) digunakan untuk mempelajari perilaku seseorang terhadap perilaku pencegahan penyakit dan kepatuhan (Notoatmodjo, 1990).
Model kepercayaan kesehatan menganggap bahwa perilaku kesehatan merupakan fungsi dari pengetahuan maupun sikap (Graeff, 1993). Secara khusus model ini menegaskan bahwa persepsi seseorang tentang kerentanan dan kemujaraban pengobatan dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam perilaku kesehatannya.

2.     Precede / Proceed Model
Model ini mendasarkan diri pada model kepercayaan kesehatan dan system-sistem konseptual lain. namun model precede merupakan “model” sejati, yang lebih mengarah kepada upaya-upaya pragmatis mengubah perilaku kesehatan daripada sekedar upaya pengembangan teori. Green dan rekan-rekannya menganalisis kebutuhan kesehatan komunitas dengan cara menetapkan lima ” diagnosis 1: yang berbeda yaitu diagnosis social, diagnosis epidemiologi, diagnosis perilaku diagnosis pendidikan, dan diagnosis administrasi /kebijakan.
Sesuai dengan perspektif perilaku, fase diagnosis pendidiKan model precede memberi penekanan pada faktor-faktor predisposisi “pemberdayaan”, dan “penguatan”. Dua faktor utama berkaitan dengan anteseden dari suatu perilaku dan kebutuhan akan keterampilan kinerja perilaku tersebut, sedangkan faktor penguatan merupakan sinonim dari istilah konsekuen yang dipakai dalam analisis perilaku.

PUSTAKA

Akhmad Sudrajat. 2008. Tentang Perilaku Individu. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/11/memahami-perilaku-individu-2/, online, diakses tanggal 3 September 2011)

Soekidjo Notoadmodjo. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta. Jakarta

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s