MASALAH GIZI MIKRO DI INDONESIA DAN BEBERAPA NEGARA DI DUNIA

A.        PENDAHULUAN

Masalah gizi makro di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya adalah Kurang Energi dan Protein (KEP) dan sejak beberapa decade ini perlahan bergeser menjadi masalah gizi ganda. Selain masalah gizi makro, bangsa Indonesia masih dihadapkan pula pada masalah gizi mikro yang permasalahannya terus berkembang, dimulai dari masalah Anemia Gizi Besi, Kekurangan Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI), dan akhir-akhir ini mulai lebih diteliti gangguan akibat kekurangan Zink, Folat maupun Selenium.

B.        PREVALENSI MASALAH GIZI MIKRO DI INDONESIA

1.         Anemia Gizi Besi

Anemia defisiensi besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Perkiraan prevalensi anemia secara global adalah sekitar 51%. Bandingkan dengan prevalensi untuk balita yang sekitar 43%, anak usia sekolah 37%, pria dewasa hanya 18%,dan wanita tidak hamil 35%. Di tahun 1990 prevalensi anemia kurang besi pada ibu hamil justru meningkat sampai 55% (WHO, 1990); yang menyengsarakan sekitar 44% wanita diseluuh Negara sedang berkembang (kisaran angka 13,4-87,5%). Angka tersebut terus membengkak hingga 74% (1997) yang bergerak dari 13,4% (Thailand) ke 85,5% (India). (Arisman, 2009).

Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di Negara sedang berkembang, ketimbang Negara yang sudah maju. 36% (atau kira-kira 1400 juta orang) dari pekiraan populasi 3800 juta orang di Negara sedang berkembang menderita anemia jenis ini, sedangkan prevalensi dinegara maju hanya sekitar 8% (atau sekitar 100 juta) dari perkiraan populasi 1200 juta orang. (Arisman, 2009).

Anemia gizi besi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat, dan/atau vitamin B12, semuanya berakar pada asupan yang tidak adekuat, ketersediaan hayati rendah, dan kecacingan yang masih tinggi. Dampak kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat diamati dari besarnya angka kesakitan dan kematian maternal, antara lain pendarahan pascapartum (disamping eklampsia, dan penyakit infeksi) dan plasenta previa yang semuanya bersumber pada anemia defisiensi. (Arisman, 2009). Berdasarkan survey RISKESDAS 2007, diketahui bahwa anemia masih mengenai berbagai golongan umur dengan prevalensi anemia tertinggi di Indonesia terjadi pada balita dengan rentang usia 1-4 tahun yaitu sebesar 27,7%.

Dalam Unicef, 2005 menuliskan bahwa resiko kematian tertinggi karena anemia terjadi saat kehamilan. Unicef menyebutkan bahwa saat kehamilan 30 kali lebih besar terjadi pada ibu hamil yang berada dinegara berkembang dibanding di negara maju. Secara keseluruhan terjadinya anemia saat kehamilan merupakan Indikator yang baik untuk wanita hamil. Anemia yang moderate dan parah merupakan akibat dari asupan zat besi yang tidak memadai dan adanya infeksi yang terjadi pada ibu hamil.

Survey Unicef, 2005  menunjukkan bahwa hampir seluruh populasi yang disurvey secara global di hampir semua negara di dunia terkena anemia. Angka prevalensi  anemia secara global diseluruh dunia dari tahun 1995-2005 adalah tertinggi pada anak usia pra sekolah sebanyak 76,1%, ibu hamil 69%, wanita usia subur 73,5%, sedikit rendah pada anak usia sekolah 33% dan laki-laki 40,2% serta pada usia lanjut 39,1%. (Unicef, 2005). Khusus untuk wilayah Asia Tenggara dan Western Pacific memiliki prevalensi anemia tertinggi untuk anak prasekolah, wanita hamil dan wanita usia subur.

Kejadian anemia yang terjadi Apabila dibandingkan pada beberapa negara terlihat bahwa persentase anemia tertinggi pada ibu hamil tahun 1990 terjadi di Papuan Nugini yang hampir mencapai 80%, Indonesia sekitar 60%, dan yang terendah adalah <20% di Negara Thailand dan <10% di Malaysia. Sekitar tahun 2003 negara Myanmar menunjukkan prevalensi anemia tertinggi yaitu >70%.

Berdasarkan data dari WHO, 2008 menunjukkan prevalensi anemia tertinggi terjadi pada anak prasekolah yaitu sebesar 47,4%, pada ibu hamil sebesar 41,8% dan pada wanita usia subur 30,2%. Anemia yang terjadi baik pada anak prasekolah, ibu hamil dan wanita usia subur semuanya tertinggi pada wilayah Afrika dan Asia Tenggara.

Apabila dibandingkan pada berbagai Negara didunia dapat dilihat persentasenya adalah untuk prevalensi anemia pada anak prasekolah dengan kategori normal (<5%) hanya terdapat di wilayah Amerika (USA), kategori ringan (5,0-19,9%) terdapat di wilayah Eropa (Spanyol, Perancis, Inggris, Portugal, Swedia, Polandia, dan Finlandia), Canada, Greenland, Jepang dan Australia. Termasuk kategori moderate (20,0-39,9%) terdapat diwilayah Rusia, Mongolia, China, Iran, Arab Saudi, Mesir dan Lybia, Afrika Selatan, Malaysia, Brunai Darussalam. Termasuk daerah yang parah (severe: >40%) yaitu daerah Afrika, Pakistan, India, Madagascar, Papua Nugini dan Indonesia.

Kemudian prevalensi anemia pada berbagai Negara didunia, khusus untuk prevalensi anemia pada ibu hamil dengan kategori normal (<5%) tidak ada, ini mengartikan bahwa semua Negara memiliki prevalensi yang tinggi terhadap anemia khususnya untuk ibu hamil. Kategori ringan (5,0-19,9%) terdapat di wilayah Amerika, Eropa (Spanyol, Perancis, Inggris, Portugal, Swedia, Polandia, dan Finlandia), Canada, Grrenland, Jepang dan Australia. Termasuk kategori moderate (20,0-39,9%) terdapat diwilayah Rusia, Mongolia, China, Arab Saudi, Afrika Selatan, Malaysia, Brunai Darussalam dan Lybia. Termasuk daerah yang parah (severe: >40%) yaitu daerah Afrika, Mesir, Iran, Turki, India, Indonesia, dan Papua Nugini.

Prevalensi anemia pada wanita usia subur (produktif) untuk berbagai Negara di dunia , khusus yang termasuk pada kategori normal (<5%) tidak ada, ini mengartikan bahwa semua negara juga memiliki prevalensi yang cukup tinggi terhadap anemia khususnya untuk wanita diusia produktif. Kategori ringan (5,0-19,9%) terdapat di wilayah Amerika (Canada,Argentina) Eropa (Spanyol, Perancis, Inggris, Portugal, Swedia, Polandia, dan Finlandia), Rusia, Mongolia, China dan Australia. Termasuk kategori moderate (20,0-39,9%) terdapat diwilayah Brazil, Lybia, Mesir, Saudi Arabia, Iran, Afrika Selatan, Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam . Termasuk daerah yang parah (severe: >40%) yaitu daerah Afrika, Papua Nugini dan India.

Global Report tahun 2009 menyatakan bahwa dengan menurunkan atau menghilangkan angka prevalensi anemia pada orang dewasa dapat meningkatkan produktivitas hingga 17%. Hal ini equivalen dengan peningkatan GDP (Gross Domestic Product) sebesar 2% terutama bagi Negara-negara yang prevalensi anemianya tinggi.

  1. Kekurangan Vitamin A (KVA)

Sekitar 125 juta balita di dunia mengalami kekurangan vitamin A subklinis, sementara 1,3 juta dari jumlah itu telah menampakkan tanda klinis xeroftalmia (WHO, 1997). Itu berarti bahwa risiko mereka untuk terjangkit infeksi membesar sebanyak 20 kali. Kebutaan yang menimpa anak di dunia, kini telah mencapai 1,5 miliar (WHO, 1992). Dengan temuan kasus baru sebanyak setengah juta setiap tahun. Gangguan penglihatan ini terutama yang terjadi pada tahun pertama kehidupan, mengganggu kehidupan psikososial, pendidikan, dan ekonomi bukan hanya bayi dan anak, tetapi juga orangtua mereka.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh WHO, 2009 bahwa terdapat 156 negara yang memiliki PDG (Product Domestic Gross) pada tahun 2005 <US$15.000 yang dianggap memiliki resiko populasi beresiko kekurangan vitamin A (KVA). Sedangkan 37 negara dengan GDP > US$15.000 mewakili 9% dan 8% dari total global populasi anak usia sekolah dan ibu hamil yang masing-masing diasumsikan bebas dari kekurangan vitamin A (KVA).

Berdasarkan survey pada beberapa wilayah di dunia, secara global terlihat bahwa untuk anak usia prasekolah dan wanita hamil diperoleh data sebagai berikut : rabun senja adalah 54% dan 55%, dan dengan data survey serum retinol 76% dan 19%. Oleh WHO wilayah cakupan bervariasi dimana untuk buta senja anak usia sekolah tertinggi di Asia Tenggara (82,4%) dan Pasifik barat (87,3%), dan sangat rendah di Eropa (1%) dan nihil di Amerika (0%). Sedangkan untuk buta senja pada wanita hamil adalah tertinggi di Asia Tenggara (96,8%) dan terendah di Eropa.

Berdasarkan hasil survey WHO 2009 bahwa untuk prevalensi anak prasekolah yang buta senja dengan kategori ringan (>0% -<1%) yaitu terdapat di wilayah Mesir, Mongolia, Cina, India dan Papua Nugini. Kategori Moderate (>1%-<5%) yaitu terdapat di wilayah Zambia dan Sudan. Sedangkan yang Severe (>5%) terdapat di wilayah Afrika, Ethiopia dan Madagascar.

Apabila dilihat prevalensi Defisiensi Vitamin A pada anak pra sekolah berdasarkan pemeriksaan biokimia yaitu serum retinol. Dikatakan memiliki masalah apabila serum retinolnya <7 µmol/l. Kategori ringan (>2%-<10%) terdapat di wilayah Columbia dan China. Kategori moderate (>10%-<20%) terdapat di daerah Peru< Argentina, Oman dan Mongolia. Kategori severe (>20%) terdapat diwilayah Afrika, Mexico, Maroko, Kazactan dan India.

Untuk prevalensi buta senja pada ibu hamil dikatakan termasuk masalah kesehatan apabila prevalensi buta senja pada ibu hamil >5% yaitu terdapat di wilaya Peru, Bolivia, Afrika, Ethiopia, Madagascar, Pakistan dan India. Pada gambar 8 menunjukkan pemeriksaan serum retino pada ibu hamil. Terlihat bahwa kategori moderate (>10%-<20%) terdapat di wilayah Iran dan Mongolia sedangka kategori severe (>20%) terdapat di wilayah Zambia, Nepal dan Bangladesh.

3.      Gangguan Akibat Kekurangan yodium (GAKY)

Kekurangan yodium sesungguhnya telah mendunia dan bukan hanya masalah gangguan gizi di Indonesia. Berdasarkan taksiran WHO dan UNICEF, sekitar satu juta penduduk di Negara yang tengah berkembang berisiko mengalami kekurangan yodium, semata karena kesalahan mereka memilih tempat bermukim di tanah yang tidak cukup mengandung yodium. Dalam skala global, GAKY telah menjadi masalah di lebih kurang 118 negara, yang mencederai 1572 juta orang. Sekitar 12% penduduk dunia (atau sekitar 655 juta orang) menderita gondok, 11,2 juta mengalami cretin, dan 43 juta menderita gangguan mental dengan berbagai tingkatan (Arisman, 2009).

Sekitar 30 juta orang Indonesia tengah membina rumah tangga di wilayah seperti ini (1991), yang lazimnya terhampar di kawasan pegunungan dan perbukitan. GAKY di negeri ini telah menyengsarakan lebih dari 14 juta penduduk; sekitar 750 orang menderita kretin, 10 juta mengalami gondok, dan 3,5 juta orang terjangkit gangguan bentuk lain. Survey pemetaan GAKY (tahun 1998) menunjukkan peningkatan masalah jumlah penderita gondok endemis ini yang meningkat sampai 20 juta, sementara penderita kretin membengkak hingga tercatat sebanyak 290.000 orang (Arisman, 2009).

Berdasarkan survey yang dilakukan bahwa defisiensi Iodium masih merupakan masalah bagi sekitar 45 negara di dunia. Defisiensi iodium merupakan masalah bagi Negara berkembang dan beberapa Negara maju didunia. Faktanya, bahkan negara Eropa diperkirakan memiliki prevalensi intake iodium yang kurang memadai sekitar 52%.

4.    Kekurangan Mineral Mikro lainnya (Zinc, Folat, dll)

Sekitar 2 milyar penduduk didunia menderita defisiensi vitamin dan mineral. Pada orang dewasa defisiensi vitamin dan mineral membawa dampak negative pada kemampuan fisik dan produktivitas. Pada wanita hamil kekurangan vitamin dan mineral mengancam kesehatan dan kehidupan terutama pada bayi yang akan dilahirkan. Demikian pula defisiensi yang terjadi pada anak-anak dibawah lima tahun, akan menurunkan kemampuan mereka untuk melawan dan bertahan tehadap penyakit dan gangguan mental. Mereka tidak dapat belajar dengan baik dan jarang ke sekolah dikarenakan sakit. (Global Report, 2009).

Menurut Global Report, 2009 bahwa defisiensi vitamin A dan zinc merupakan bagian yang paling berbahaya untuk anak, karena mereka rentan terhadap penyakit campak, diare dan malaria. 20-24% kematian anak-anak dikarenakan ke-3 penyakit tersebut, salah satunya disebabkan karena ketidakcukupan intake vitamin A dan Zinc. Defisiensi vitamin A umumnya hampir mengenai sekitar 670.000 anak balita  didunia dan defisiensi zinc hampir sekitar 450.000 anak. Kira-kira sepertiga dari anak-anak berusia 5 tahun di dunia memiliki intake yang tidak adekuat terhadap vitamin A dan Zinc.

Penelitian menunjukkan bahwa penyakit diare menyebabkan 18% kematian pada anak-anak dibawah lima tahun. Studi menunjukkan bahwa Zinc , terutama dengan pemberian rehidrasi terapi oral, dapat menurunkan insiden diare pada anak hingga 27% dan ternyata dapat pula menurunkan insiden infeksi gangguan pernafasan akut hingga 15%.

Negara China mencatat bahwa defisiensi vitamin dan mineral menyebabkan kehilangan US $ 2,5-5 milyar/tahun. Di India, diperkirakan defisiensi vitamin dan mineral membebani negaranya dengan biaya US $ 2,5 milyar/tahun. Equivalen dengan sekitar 0,4% dari GDP. Tahun 2003 World Bank telah mengestimasikan bahwa apabila tidak dilakukan intervensi yang tepat dan sesuai, di Negara India akan kehilangan produktivitasnya  dikarenakan anemia, defisiensi Iodium yang sama saja akan kehilangan sekitar US $ 114 milyar antara tahun 2003 dan 2012.

Beberapa akibat yang terjadi apabila kekurangan vitamin dan mineral diantaranya : (1) pada bayi : BBLR, tingginya angka mortalitas, gangguan perkembangan mental, dan peningkatan resiko penyakit kronis; (2) pada anak-anak menimbulkan terjadinya stunting, menurunkan kemampuan mental, frekuensi terkena penyakit infeksi meningkat, tidak memadainya pertumbuhan, menurunnya produktivitas dan tingginya angka mortalitas; (3) pada remaja menimbulkan terjadinya stunted, menurunnya kemampuan mental,kelelahan dan meningkatnya resiko penyakit infeksi; (4) pada Ibu hamil : meningkatkan mortalitas dan komplikasi perinatal, dan mengurangi produktivitas; (5) pada orang dewasa : menurunkan produktivitas, malnutrisi dan rendahnya status social-ekonomi; dan (6) pada Usila : meningkatnya angka morbiditas (Osteoporosis, gangguan mental, dll) dan meningkatnya angka mortalitas.

Berdasarkan data Global Report 2009 menunjukkan bahwa sekitar 1,1 juta anak usia dibawah 5 tahun meninggal karena defisiensi vitamin A dan Zinc. 136.000 wanita dan anak-anak meninggal disebabkan defisiensi besi-Anemia. 18 juta bayi lahir dengan gangguan mental disebabkan karena ibu kekurangan iodium, 150.000 bayi lahir dengan gangguan yang parah dan berat lahir yang rendah karena ibu defisiensi folat serta 350.000 anak menjadi buta karena kekurangan vitamin A. sekitar 1,6 milyar penduduk mengalami produktivitas kerja yang rendah karena anemia.

Berdasarkan data Global Report 2009 juga menunjukkan bahwa dengan mencukupinya jumlah asupan  vitamin A akan mengurangi angka mortalitas sebesar 23% dan menurunkan prevalensi kebutaan sebesar 70%. Cukupnya Iodium mampu meningkatkan IQ hingga mencapai 13 point. Zat besi (Fe) mampu menurunkan angka kematian ibu hingga sebesar 20%. Zinc mampu menurunkan angka mortalitas pada anak balita hingga 6%, dan mampu menurunkan insiden diare hingga sebesar 27%. Demikian pula Folate dapat menurunkan angka keparahan neural tube defect (NTD) seperti Spina Bifida hingga 50%.

(ByYetti Wira Citerawati SY)

Refference

Arisman. 2010. Gizi Dalam daur Kehidupan. EGC. Jakarta

Badan Penelitian dan Pengembangan kesehatan Depkes RI. 2007. Riset Kesehatan Dasar . Jakarta

UNICEF, World Bank, USAID, GAIN, Micronutrient Initiative, Flour Fortification Initiative (Global Report). 2009. Investing in the Future : A United Call to Action on Vitaminand Mineral Deficiencies .

Unicef.2005. Child Survival Mortality Immunization Nutrition Water And Sanitation. Edvance Humanity ; HEALTH

WHO. 2008. Worldwide Prevalence of Anaemia 1993-2005 : WHO Global Data Base Anemia. Atlanta< Georgia.

WHO. 2009. Global Prevalence of Vitamin A Deficiency  in Population at risk 1995-2005 ; WHO Global  Database on Vitamin A Deficiency. Geneva

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s