Opini

SUDAH TEPATKAH PENGUKURAN PRESTASI BELAJAR YANG KITA LAKUKAN SELAMA INI ?

Selama ini pernahkah kita sebagai seorang pengajar benar-benar merenungkan makna penilaian yang sering kita lakukan terhadap perserta didik kita. Sudah benarkah pemahaman kita terhadap makna pengukuran dan penilaian prestasi belajar, untuk apakah penilaian tersebut kita lakukan, apa sebenarnya makna yang paling mendasar dari penilaian tersebut. Apa sebenarnya manfaat yang diperoleh oleh peserta didik dalam penilaian itu? Sambil merenungkan makna penilaian itu sendiri, marilah kita sama-sama mengingat apa itu definisi dari prestasi belajar. Prestasi belajar adalah hasil belajar/ nilai pelajaran sekolah  yang dicapai oleh siswa berdasarkan kemampuannya/usahanya dalam belajar.

Kemudian tes prestasi belajar merupakan salah satu alat pengukuran di bidang pendidikan yang sangat penting artinya sebagai sumber informasi guna pengambilan keputusan. Selanjutnya makna dari pengukuran itu sendiri adalah segala usaha yang dilakukan guru/pendidik mengenai hasil belajar siswa atau proses belajar yang diperoleh dari data kuantitatif baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, meliputi tes formatif, tes sumatif, tes praktek, dan ujian akhir. Hasil pengukuran berupa skor, rating atau skala. Agar dapat memberikan informasi yang diharapkan tentang kemampuan siswa maka diadakan penilaian terhadap keseluruhan proses belajar mengajar sehingga akan memperlihatkan banyak hal yang dicapai selama proses belajar mengajar.

Berpatok dari definisi pengukuran prestasi belajar di atas, seorang pengajar sering terperangkap dan terjebak dalam pengertian yang dangkal. Dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, kadang seorang pengajar terlena dengan pengukuran/penilaian terhadap peserta didiknya tanpa memperhatikan lagi apa sebenarnya makna dari penilaian tersebut. Sebagai contoh, di sebuah kelas kadang seorang pengajar begitu sibuknya menjejali siswa dengan berbagai hafalan yang merupakan tuntutan kurikulum. Setelahnya terlihat betapa pengajar tersebut begitu disibukkan dengan penilaian yang panjang dan melelahkan ( apalagi peserta didiknya). Pengajar  disibukkan dengan penilaian dari semua hal yang dikerjakan peserta didiknya dalam proses belajar dengan dalil penilaian proses. Belum lagi pemberian PR dan latihan-latihan soal dengan alasan untuk memantapkan pemahaman perserta didik terhadap sebuah kompetensi yang harus dikuasainya. Ditambah tugas-tugas yang harus dikerjakan perserta didik yang katanya untuk menilai kinerja ataupun performa perserta didik. Selanjutnya perserta didik mengikuti test formatif setiap akhir dari satu bab pembelajaran yang berisi beberapa indikator. Tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan penguasaan perserta didik terhadap kompetensi dan indikator dari suatu materi pembelajaran. Dan akhirnya proses ini disempurnakan dengan test sumatif pada setiap akhir term dengan tujuan melihat penguasaan standar kompetensi yang seharusnya dikuasai perserta didik. Semuanya masuk ke dalam proses penilaian rapot.

Outputnya adalah sebuah deretan panjang proses penilaian terhadap perserta didik yang terdiri dari Test Harian / LK + test formatif + performa + tugas / PR + Test Sumatif = Perserta didik cerdas atau siswa bodoh. Jika nilainya baik maka baiklah masa depan anak itu. Jika nilainya jelek maka suramlah masa depan anak itu.

Dalam proses penilaian yang panjang ini, seorang pengajar tampaknya sudah mulai terjebak dengan makna yang dibuat sendiri oleh seorang pengajar, bahwa penilaian tadi tidak ubahnya hanyalah untuk pengkastaan / memilah mana perserta didik yang low dan mana yang high. Pemahaman ini akan tepat seandainya seorang pengajar tidak hanya berhenti sampai disitu saja, tapi justru dengan diketahuinya mana saja perserta didik yang low dan high maka dapat dibuat sebagai langkah awal seorang pengajar untuk menerapkan pendekatan dan metode pengajaran yang tepat agar semua peserta didik dapat memahami materi pengajaran secara utuh dan menyeluruh. Dan jangan sampai peserta didik salah pemahaman, bukan nilai yang tinggi yang harus diperjuangkan tapi pemahaman terhadap suatu materilah yang paling dipentingkan.

Sudah saatnya kita sebagai pengajar meninggalkan sistem penilaian dan evaluasi pembelajaran semacam ini. Ada beberapa alasan yang dapat kita bahas terkait masalah ini :

  1. Penilaian semacam ini tidak memberikan perserta didik ruang untuk berbuat kesalahan.  Mengapa? Karena setiap kesalahan yang ia lakukan dalam mengerjakan setiap test  diatas langsung berpengaruh kepada nilai rapot.
  2. Output dari proses penilaian di atas mengarah kepada labeling dan cap stempel pada diri perserta didik. perserta didik cerdas atau bodoh.
  3. Muncul peng”kasta”an perserta didik. Low, middle, atau high. Apalagi jika ditambah  dengan perangkingan.
  4. Perserta didik dan guru terobsesi untuk pencapaian nilai.
  5. Terjadinya distorsi makna belajar.

Hal ini bukan berarti penilaian tidak penting dalam sebuah proses belajar di sekolah. Penilaian dan evaluasi belajar merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Namun orientasi penilaian bukan sekedar perserta didik mencapai poin nilai standar tetapi sebagai perangkat untuk membantu perserta didik melalui tahap belajarnya. Juga menjadi bahan evaluasi seorang pengajar untuk menilai efektifas dari metode, gaya, dan cara pengajaran yang ia terapkan. Dengan penilaian tersebut pengajar dapat mencoba cara lain atau pendekatan lain yang dimengerti perserta didik dalam memahami sebuah kompetensi. Sekolah yang berorientasi masa depan tidak menjadikan semua hal yang dikerjakan perserta didik dalam proses belajar, PR, ulangan harian atau LK harian, test formatif sebagai komponen dari sistem grading atau penilaian di akhir term. Jika perserta didik salah dalam mengerjakan ulangan harian, LK, PR harian ataupun formatif maka tidak dimasukkan sebagai bahan penyusunan nilai rapot. Melainkan sebagai feed back bagi anak dan pengajar untuk mengubah atau meningkatkan cara belajar dan pengajarannya.

Inilah hakikat belajar. Belajar adalah sebuah proses memahami. Hak perserta didik untuk diantarkan mencapai pemahaman tersebut. Bukan sekedar dinilai kalau mampu memahami berarti cerdas dan jika jelek tidak diberikan lagi haknya untuk mencapai tingkat pemahaman yang utuh dan tuntas. Padahal tanggung jawab seorang pengajar, dan tentu sekolah, mengantarkan perserta didik terhadap sebuah pemahaman yang utuh dan tuntas. Kesalahan mungkin terjadi, tapi terus diikuti umpan balik.

Jadi penilian dilakukan dalam rangka mengetahui di posisi mana perserta didik berada. Untuk menetapkan posisi perserta didik dapat diterapkan sistem penilaian Introduced ( I ), Progressing (P), dan Mastery (M). I menandakan perserta didik baru berada pada posisi belajar atau tahapan proses memahami. P menandakan perserta didik telah memahami dan dalam proses melatih dan menyempurnakan pemahamannya. M perserta didik telah mampu mengobservasi dan siap berpindah pada tahapan selanjutnya. Barulah pada akhir term (semester atau cawu) dilakukan evaluasi akhir atas siklus pembelajaran yang telah berlangsung. Sekali lagi, evaluasi sumatif ini tidak bertujuan untuk menggolong-golongkan perserta didik, tetapi sebagai alat untuk mengetahui sejauh mana proses belajar itu berlangsung. Juga sebagai alat evaluasi pengajar mengukur efektifitas pengajarannya.

Berdasarkan keadaan di atas, sebaiknya sebagai seorang pengajar kita harus memahami prinsip-prinsip dalam pengukuran perstasi belajar. Menurut  Gronlund (1977) merumuskan beberapa prinsip dasar dalam pengukuran prestasi, yakni :

  1. Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan  instruksional.
  2. Tes prestasi harus mengukur suatu sampel yang representatif dari hasil belajar dan dari   materi yang dicangkup oleh program instruksional atau pengajaran.
  3. Tes prestasi harus berisi aitem-aitem denga tipe yang paling cocok guna mengukur hasil             belajar yang diinginkan.
  4. Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar sesuai degna tujuan penggunaan        hasilnya.
  5. Realibilitas tes prestasi harus diusahakan setinggi mungkin dan hasil ukurnya harus ditafsirkan dengan hati-hati.
  6. Tes prestasi harus dapat digunkan untuk meningkatkan belajar para anak didik.

Dengan memahami prinsip ini semoga semua pengajar tidak akan terjebak dengan makna penilaian sebagai sesuatu yang hanya sekedar  untuk mencapai poin nilai standar ataupun mengejar dan membuat kasta antara siswa low, middle, atau high atau tapi harus lebih menekankan bahwa penilaian sebagai perangkat untuk membantu siswa melalui tahap belajarnya. Disini keterampilan proses yang paling dipentingkan. Mari kita sama-sama merasa bertanggung jawab untuk mengantarkan peserta didik terhadap sebuah pemahaman yang utuh dan tuntas terhadap suatu materi pembelajaran yang diajarkan . Bukan semata-mata bertujuan untuk mengejar standar nilai yang tinggi . pencapaian standar nilai yang tinggi penting sebagai motivasi seseorang namun jangan melupakan makna yang paling penting dari pengukuran / penilaian prestasi belajar itu sendiri yang mana sesuai dengan tujuan pendidikan yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s