TEKNIK PENGANALISISAN ITEM TES HASIL BELAJAR (2)

Setelah kita membahas teknik analisis yang pertama yaitu teknik analisis derajat kesukaran maka teknik analisis selanjutnya adalah teknik analisis daya beda dan teknik analisis fungsi distraktor. Kedua teknik analisis tersebut akan diuraikan dibawah ini :

2.    Teknik Analisis Daya Pembeda

Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik dengan kemampuan rendah demikian rupa sehingga sebagian besar peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi untuk menjawab butir item tersebut lebih banyak yang menjawab betul, sementara peserta didik yang kemampuannya rendah untuk menjawab butir item tersebut sebagian besar tidak dapat menjawab item dengan betul.

Mengetahui daya pembeda itu penting sekali, sebab salah satu dasar yang dipegangi untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar  adalah adanya anggapan, bahwa kemampuan atara peserta didik yang satu dengan yang lain itu berbeda-beda, dan bahwa butir item tes hasil belajar itu haruslah mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat dikalangan  peserta didik tersebut.

Daya pembeda item itu dapat diketahui melalui atau dengan melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item. Angka indeks diskriminasi item adalah sebuah angka atau bilangan yang menunjukkan besar kecilnya daya pembeda (discriminatory power) yang dimiliki oleh sebutir item. Discriminatory power pada dasarnya dihitung atas dasar pembagian  peserta didik kedalam dua kelompok, yaitu kelompok atas (the higher group)-yakni kelompok peserta didik yang tergolong pandai- dan kelompok bawah (the lower group)-yaitu kelompok peserta didik yang tergolong bodoh.

Adapun cara menentukan dua kelompok itu bisa bervariasi; misalnya dapat menggunakan median sehingga pembagian menjadi dua kelompok itu terdiri atas 50% kelompok atas dan bawah. Dapat juga dengan mengambil 20% kelompok atas dan bawah, dan dapat juga menggunakan persentase lainnya. Namun pada umumnya para pakar dibidang evaluasi pendidikan lebih banyak menggunakan persentase sebesar 27% dari kelompok atas dan 27% dari kelompok bawah. Hal ini disebabkan karena berdasarkan bukti-bukti empiric pengambilan subjek sebanyak 27% kelompk atas dan bawah telah menunjukkan kesensitifannya atau dengan kata lain cukup dapat diandalkan.

Indeks diskriminasi item itu umumnya diberi lambing dengan huruf D (discriminatory power), dan seperti halnya angka indeks kesukaran item, maka indeks diskriminasi item ini besarnya berkisar antara 0 (nol) sampai 1,00. Namun diantara keduanya terdapat perbedaan yang mendasar, yaitu :

  1. Angka indeks kesukaran tidak pernah negative, maka indeks daya pembeda dapat bertanda negative (minus)
  2. Jika sebutir item memiliki item dengan tanda positif, artinya bahwa butir item tersebut telah memiliki daya pembeda, dalam arti bahwa peserta didik yang termasuk kategori pandai lebih banyak yang bisa menjawab dengan betul terhadap butir item yang bersangkutan, sedangkan peserta didik yang termasuk kategori bodoh lebih banyak yang menjawab salah.
  3. Jika sebutir item angka indeks D= 0,00 (nihil), maka hal ini menunjukkan bahwa butir item yang bersangkutan tidak memiliki daya pembeda sama sekali, artinya bahwa jumlah peserta didik atas yang jawabannya betul (atau salah) sama dengan jumlah peserta didik kelompok bawah yang jawabannya betul. Jadi diantara kedua kelompok tersebut tidak ada perbedaannya sama sekali (=0).
  4. Apabila bertanda negative, artinya bahwa butir item yang bersangkutan lebih banyak dijawab betul oleh peserta didik kelompok bawah (bodoh) ketimbang peserta didik kelompok atas (pandai) atau peserta didik yang sebenarnya termasuk dalam kategori pandai lebih banyak jawabannya salah, sedangkan peserta didik yang sebenarnya termasuk dalam kategori bodoh justru lebih banyak yang jawabannya betul.

Patokan yang biasanya digunakan untuk daya pembeda adalah:

Besarnya angka indeks (D )       Klasifikasi         Interpretasi

< 0,20                                                Poor                    Daya Pembeda Jelek

0,20-0,40                                        Satisfactory     Daya Pembeda cukup (sedang)

0,40-0,70                                        Good                   Daya pembeda baik

0,70-1,00                                        Excellent            Daya pembeda baik sekali

Tanda negative                               –                             Daya pembeda jelek sekali

Untuk mengetahui besar kecilnya angka indeks diskriminasi item dapat dipergunakan rumus sebagai berikut :

Rumus :

D    =             PA – PB                 atau           D = PH – PL

di mana :

D    = angka indeks diskriminasi item

PA  atau PH = proporsi peserta didik kelompok atas yang dapat menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan. (PH adalah singkatan dari Proportion of the Higher Group)

PA  atau PH  dapat diperoleh dengan rumus :

PA  = PH  = BA /JA

Di mana :

BA  = banyaknya peserta didik kelompok atas (the higher group) yang dapata menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan

JA    = jumlah peserta didik yang termasuk dalam kelompok atas

PB  atau PL = proporsi peserta didik kelompok bawah yang dapat menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan. (PL adalah singkatan dari Proportion of the Lower Group)

PB  atau PL  dapat diperoleh dengan rumus :

PB  = PL  = BB /JB

Di mana :

BB  = banyaknya peserta didik kelompok bawah (the lower group) yang dapat menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan

JB    = jumlah peserta didik yang termasuk dalam kelompok bawah

Tindak lanjut dari analisis daya pembeda adalah :

  1. Butir-butir item yang sudah memiliki daya pembeda item yang baik (satisfactory, good dan excellent) hendaknya dimasukkan dalam buku bank soal tes hasil belajar. Butir-butir item tersebut pada tes hasil belajar yang akan datang dapat dikeluarkan lagi, karena kualitasnya sudah cukup memadai.
  2. Butir-butir item yang daya pembedanya masih rendah (poor), ada dua kemungkinan tindak lanjut yaitu :
  • Ditelusuri untuk kemudian diperbaiki, dan setelah diperbaiki dapat diajukan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang; kelak item tersebut dianalisis lagi, apakah daya pembedanya meningkat ataukah tidak
  • Dibuang (didrop) dan untuk tes hasil belajar yang akan datang butir item tersebut tidak akan dikeluarkan lagi.

3. Khusus butir-butir item yang angka indeks diskriminasi itemnya bertanda negative, sebaiknya pada tes hasil belajar yang akan datang tidak usah dikeluarkan lagi, sebab butir item yang demikian itu kualitasnya sangat jelek.

3.    Teknik Analisis Fungsi Distraktor

Membicarakan tes objektif bentuk multiple choise item tentunya untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternative. Option termasuk biasanya berkisar antara tiga sampai dengan lima buah, dan dari kemungkinan-kemungkinan jawab yang terpasang pada setiap butir itemitu, salah satu di antaranya adalah jawaban betul (=kunci jawaban); sedangkan sisanya merupakan jawaban salah. Jawaban-jawaban salah itulah yang biasa dikenal dengan istilah distractor (distraktor = pengecoh).

Tujuan utama dari pemasangan distraktor pada setiap butir item adalah agar dari sekian banyak peserta didik yang mengikuti tes hasil belajar ada yang tertarik atau terangsang untuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Distraktor baru dapat dikatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik, apabila distraktor tersebut telah memiliki daya rangsang atau daya tarik demikian rupa, sehingga peserta didik- (khususnya yang termasuk dalam kategori : kemampuannya rendah atau bodoh) – merasa bimbang, dan ragu-ragu sehingga pada akhirnya mereka menjadi terkecoh untuk memilih distraktor sebagai jawaban betul, sebab mereka mengira bahwa distraktor yang mereka pilih itu adalah kunci jawaban item; padahal bukan.

Menganalisis fungsi distraktor sering dikenal dengan istilah lain, yaitu : menganalisis pola penyebaran jawaban item. Pola penyebaran jawaban item adalah suatu pola yang dapat menggambarkan bagaimana peserta didik menentukan pilihan jawabnya terhadap kemungkinan-kemungkinan jawab yang telah dipasangkan pada setiap butir item.

Suatu kemungkinan dapat terjadi, yaitu bahwa dari keseluruhan alternative yang dipasang pada butir item tertentu, sama sekali tidak dipilih oleh peserta didik. Dengan kata lain, peserta didik menyatakan “blangko”. Pernyataan blangko ini sering dikenal dengan istilah oniet dan biasa diberi lambing dengan huruf O. Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5% dari seluruh peserta tes. Misalnya, tes hasil belajar diikuti oleh 100 orang, maka distraktor dinyatakan berfungsi dengan baik apabila minimal 5 orang dari 100 orang peserta tes itu sudah “terkecoh” untuk memilih distraktor tersebut.

(By Yetti Wira Citerawati SY)

Di sadur dari : Sudijono, Anas.2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s