TEKNIK PENGANALISISAN ITEM TES HASIL BELAJAR (1)

Menjadi seorang pendidik, pengajar ataupun seorang dosen merupakan pekerjaan yang memiliki tanggungjawab yang besar. Seorang pengajar yang baik dituntut tidak hanya sekedar menyampaikan materi kepada anak didiknya, tetapi maknanya sangatlah jauh dari hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah sekarang istilah belajar mengajar, bergeser menjadi istilah pembelajaran. Ini mengartikan bahwa dalam proses pembelajaran yang semula teacher center menjadi student center, yang menjadi pusat pembelajaran tidak hanya seorang pengajar saja tapi justru peserta didiklah yang harus aktif.

Menjadi seorang pengajar yang bermutu membutuhkan rangkaian proses kegiatan yang panjang disetiap rangkaian proses pengajaran. Mulai dari seorang pengajar menyiapkan rancangan proses pembelajaran (RPP) yang didalamnya termasuk mempersiapkan materi yang up to date kepada peserta didik, memikirkan model, strategi dan metode pembelajaran yang tepat dengan karakteristik mahasiswa, seorang pengajar dituntut kreativitasnya untuk membuat atau menggunakan media pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, hingga diakhir sesi memberikan evaluasi kepada peserta didik berupa butir-butir soal.

Berhubungan dengan fase akhir yang biasanya dilakukan oleh seorang pengajar adalah evaluasi, maka tugas penting  pengajar selain mempersiapkan pengajaran hingga melakukan pembelajarannya, maka salah satu tugas penting yang harus dilakukan adalah melakukan evaluasi terhadap alat pengukur yang telah dibuat.

Kenyataan sering kali menunjukkan bahwa apabila dalam tes hasil belajar di mana hampir seluruh peserta tes “jatuh” dalam arti nilai-nilai hasil belajarnya sangat rendah, maka pengajar biasanya menimpakan kesalahan kepada peserta didik dengan menyatakan bahwa  peserta didik memang terdiri dari anak yang “bodoh”. Pernyataan dikemukakan diatas, mungkin benar tetapi mungkin juga belum tentu tepat. Sebaliknya tidak jarang terjadi hasil dalam tes hasil belajar dimana mahasiswa hampir seluruhnya berhasil meraih nailai-nilai hasil tes yang sangat tinggi, maka pengajar segera merasa puas dan bangga karena ternyata tingkat penguasaannya terhadap materi tes tersebut sangat tinggi dan dengan segera pengajar menyatakan bahwa peserta didik terdiri dari anak-anak yang hebat.

Berdasarkan kenyataan seperti yang terjadi pada dua kasus di atas, seorang pengajar hendaknya tanggap bahwa “ada sesuatu yang kurang beres”, sehingga perlu dilakukan antisipasi. Salah satu cara mengantisipasi keadaan yang tidak normal itu adalah dengan jalan melakukan penganalisisan terhadap tes hasil belajar yang telah  dijadikan alat pengukur dalam rangka mengukur keberhasilan belajar dari para peserta didik tersebut.

Disini seorang pengajar perlu melakukan penelusuran dan pelacakan dengan secara cermat, terhadap butir-butir soal yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes hasil belajar sebgai suatu totalitas. Penelusuran dan pelacakan itu dilaksanakan oleh pengajar dengan tujuan untuk mengetahui apakah butir-butir item yang membangun tes hasil belajar itu sudah dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar  yang memadai atau belum. Identifikasi terhadap setiap butir item tes hasil belajar itu dilakukan dengan harapan akan menghasilkan berbagai informasi berharga, yang pada dasarnya akan merupakan umpan balik guna melakukan perbaikan, pembenahan dan penyempurnaan kembali terhadap butir-butir item yang telah dikleuarkan dalam tes  hasil belajar, sehingga pada masa-masa yang akan datang tes hasil belajar yang disusun oleh pengajar itu betul-betul dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar yang memiliki kualitas yang tinggi. Rangkaian kegiatan ini disebut dengan istilah analisis item (item analysis).

Penganalisisan terhadap butir-butir item tes hasil belajar dapat dilakukan dari tiga sesi yaitu (1) dari segi derajat kesukaran itemnya, (2) dari segi daya pembeda itemnya, (3) dari segi fungsi distraktornya.

  1. Teknik Analisis Derajat Kesukaran

Bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar pertama-tama dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masing-masing buti item tersebut. Butir-butir item tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butir-butir item yang baik, apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah dengan kata lain derajat kesukaran item itu adalah sedang atau cukup. Menurut Witherington, angka indek kesukaran item itu besarnya berkisar antara 0,00 s.d 1,00. Artinya angka indeks kesukaran itu paling rendah 0,00 dan paling tinggi adalah 1,00. Angka indeks kesukaran sebesar 0,00 (P=0,00) merupakan petunjuk bagi pengajar bahwa butir item tersebut termasuk dalam kategori item yang terlalu sukar , sebab disini seluruh peserta didik tidak dapat menjawab item dengan betul. Sebaliknya apabila angka indek kesukaran item adalah 1,00 (P=1,00) hal ini mengandung makna bahwa butir item yang bersangkutan adalah termasuk dalam kategori item yang terlalu mudah, sebab di sini seluruh peserta didik dapat menjawab dengan betul butir item yang bersangkutan.

Angka indeks kesukaran item itu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :

P    = B/JS

Keterangan :

P    = angka indeks kesukaran item=proporsi

B    = banyaknya peserta didik yang dapat menjawab dengan betul terhadap butir item yang bersangkutan

JS   = jumlah peserta didik yang mengikuti tes hasil belajar

Menurut Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen bahwa angka indeks keksukaran sebagai berikut :

Besarnya P                            Interpretasi

<0,30                                          Terlalu sukar

0,30-0,70                                  Cukup (sedang)

>0,70                                          Terlalu mudah

Sedangkan menurut Witherington mengemukakan :

Besarnya P                             Interpretasi

< 0,25                                          Terlalu sukar

0,25-0,75                                   Cukup (sedang)

>0,75                                            Terlalu mudah

Setelah berhasil dilakukan identifikasi butir-butir item, maka yang harus kita lakukan sebagai seorang pengajar adalah :

  1. Untuk butir yang termasuk kategori cukup(sedang) seyogyanya butir item tersebut segera dicatat dalam buku bank soal. Selanjutnya butir-butir soal tersebut dapat dikeluarkan lagi dalam tes-tes hasil belajar pada waktu-waktu yang akan datang.
  2. Untuk butir yang termasuk sukar, ada tiga kemungkinan tindak lanjut : (1) butir item tersebut didrop dan tidak dikeluarkan lagi dalam tes-tes hasil belajar yang akan datang, (2) diteliti ulang, dilacak dan ditelusuri sehingga dapat diketahui factor yang menyebabkan butir item yang bersangkutan sulit dijawab oleh peserta didik, (3) haruslah dipahami bahwa tidak setiap butir item yang termasuk dalam kategori terlalu sukar itu sama sekali tidak memiliki kegunaan.
  3. Untuk butir yang termasuk mudah, juga ada tiga kemungkinan tindak lanjut : (1) butir item tesebut didrop, (2) diteliti ulang,(3) haruslah dipahami bahwa tidak setiap butir item yang termasuk dalam kategori terlalu mudah itu sama sekali tidak memiliki kegunanaan.

(By Yetti Wira Citerawati SY )

Bersambung…………..

(Disadur dari Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. PT Raja GrafindoPersada. Jakarta).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s