MASALAH GIZI MAKRO DI INDONESIA

A.        PENDAHULUAN

Masalah gizi di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), masalah Anemia Besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah Kurang Vitamin A (KVA) dan masalah obesitas terutama di kota-kota besar. Pada Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 1993, telah terungkap bahwa Indonesia mengalami masalah gizi ganda yang artinya sementara masalah gizi kurang belum dapat diatasi secara menyeluruh, sudah muncul masalah baru, yaitu berupa gizi lebih. (Supariasa, 2012).

Secara umum masalah gizi di Indonesia, terutama KEP, masih lebih tinggi daripada Negara ASEAN lainnya. Pada tahun 1995 35,4% anak balita di Indonesia menderita KEP (persen median berat menurut umur < 80%). Pada tahun 1997 berdasarkan pemantauan status Gizi (PSG) yang dilakukan oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat, prevalensi KEP ini turun menjadi 23,1%. Keadaan ini tidak dapat bertahan yaitu pada saat Indonesia mengalami krisis moneter yang berakibat pada krisis ekonomi yang berkepanjangan. Pada tahun 1998, prevalensi KEP meningkat kembali menjadi 39,8%. Demikian pula masalah KVA yang diperkirakan akan meningkat karena masa krisis ekonomi yang berkepanjangan. (Supariasa, 2012).

B.        PREVALENSI MASALAH GIZI MAKRO DI INDONESIA

Meskipun Indonesia telah menunjukkan penurunan kemiskinan secara tetap, tetapi masalah gizi pada anak-anak (balita) hanya menunjukkan sedikit perbaikan. Dari tahun 2007 sampai 2011, proporsi penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar 16,6-12,5%, tetapi masalah gizi tidak menunjukkan penurunan secara signifikan. Sebagai contoh prevalensi anak pendek masih sangat tinggi, yaitu masih tinggi di atas angka prevalensi WHO yang ditetapkan yaitu 20%. Angka prevalensi masalah gizi makro pada balita dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Prevalensi Masalah Gizi Makro pada Balita

Status Gizi

Riskesdas 2007

Riskesdas 2010

Gizi Buruk (<-3SD)-          Marasmus

–          Kwasiorkort

 

5,4%

4,9%

Wasting (BB/TB)-          Sangat kurus

–          Kurus

13,6

6,2

7,4

13,3

6,0

7,3

Gemuk (BB/TB)

12,2

14

Underweight  (BB/U) (Kurus)

18,4

17,9

Stunting (TB/U)-          Pendek

–          Sangat pendek

36,8

18

18,8

35,6

17,1

18,5

Sumber : Riskesdas, 2007 & 2010

Berdasarkan tabel 1 terlihat prevalensi status gizi buruk pada balita mengalami penurunan,apabila dibandingkan antara tahun 2007 dan 2010. Sedangkan untuk wasting menunjukkan prevalensi yang tinggi dan terlihat antara tahun 2007 dan 2010 tidak menunjukkan penurunan yang berarti. Pada Riskesdas tahun 2010 menunjukkan bahwa prevalensi balita sangat kurus (BB/TB) mencapai 6% sehingga menempatkan mereka pada resiko kematian yang tinggi. Menurut Riskesdas 2010 beberapa keadaan yang menyebabkan status gizi kurus ini disebabkan karena nafsu makan yang turun akibat sakit atau menderita diare.

Demikian pula prevalensi kurus pada usia 6-12 tahun dan 13-15 tahun adalah 11% serta 16-18 tahun sebesar 8,9%. Selanjutnya prevalensi underweight berdasarkan indikator BB/U ternyata juga masih tinggi yaitu pada tahun 2010, yaitu 17,9%. Padahal apabila mengacu pada angka WHO (non public health problem) tidak boleh melebihi 10%. Pada tabel 1, terlihat satu masalah gizi yang prevalensinya selalu mengalami kenaikan setiap tahun yaitu status gizi gemuk berdasarkan indikator BB/TB yang semula hanya 12,2 % pada tahun 2007 menjadi 14% pada tahun 2010.

Untuk stunting walaupun mengalami penurunan, namun angka prevalensinya tetap masih sangat tinggi apabila dibandingkan dengan  angka prevalensi WHO. Prevalensi stunting pada Riskesdas tahun 2010 menuliskan bahwa prevalensi stunting pada usia 6-18 tahun ternyata juga masih tinggi yaitu sebesar >30% dan mencapai prevalensi tertinggi pada usia 6-12 tahun yaitu sebesar 35,6%. Dalam Riskesdas 2010 menuliskan bahwa beberapa penyebab stunting ini adalah seperti kemiskinan, perilaku pola asuh yang tidak tepat, dan sering menderita penyakit secara berulang karena hygiene dan sanitasi yang kurang baik. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Prevalensi Stunting pada Usia 6-18 tahun

Status Gizi

6-12 tahun

13-15 tahun

16-18 tahun

Sangat pendek

15,1

13,1

7,2

Pendek

20,5

22,1

24,0

Normal

64,5

64,9

68,8

Sumber : Riskesdas, 2010

Masih tingginya prevalensi stunting di Indonesia haruslah diwaspadai dan mendapat perhatian yang besar karena masalah gizi, khususnya stunting, menghambat perkembangan anak muda, dengan dampak negative yang akan berlangsung dalam kehidupan selanjutnya. Studi menunjukkan bahwa anak dengan stunting sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama pendidikan yang menurun dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa. Anak-anak pendek  menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang kurang berpendidikan, miskin, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. Oleh karena itu, anak pendek merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang diterima secara luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang. (Unicef Indonesia, 2012).

Selain masalah gizi pada balita, masalah gizi yang sering terjadi pada orang dewasa adalah seperti terlihat pada tabel 3.

Tabel 3. Prevalensi Masalah Gizi Makro pada Dewasa (>18 tahun) berdasarkan IMT

Status Gizi

2007

2010

Laki-laki

Perempuan

Kurus

12,6

12,9

12,3

Normal

65,8

70,9

60,8

BB lebih

10

8,5

11,4

Obese

11,7

7,8

15,5

Sumber: Rislesdas 2007 & 2010

Berdasarkan tabel 3, terlihat bahwa status gizi yang prevalensi mengalami peningkatan adalah status gizi lebih dan obese. Berdasarkan Riskesdas 2010, menunjukkan bahwa obese meningkat pada usia > 35 tahun dan menurun setelah usia 60 tahun, baik pada laki-laki dan perempuan dan ternyata kejadian obese lebih besar terjadi di kota dibandingkan di desa. Obese meningkat seiring pendidikan seseorang bertambah tinggi dan jenis pekerjaan yang dilakukan seperti PNS/TNI/POLRI/Pegawai. Demikian pula semakin tinggi tingkat pengeluaran RT perkapita cenderung prevalensi obesnya juga meningkat.

Refference

Kemenkes RI. 2007.Riset Kesehatan Dasar Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta .

Kemenkes RI. 2010.Riset Kesehatan Dasar Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta .

Supariasa, I Dewa Nyoman., B. Bakri dan I. Fajar. 2012. Penilaian Status Gizi. EGC, Jakarta

Unicef Indonesia. 2012. Ringkasan Kajian Gizi Ibu dan Anak. Unicef Indonesia.

(By Yetti Wira Citerawati SY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s