MCT ( MEDIUM CHAIN TRIGLYCERIDE)

MCT dan Fungsinya Dalam Tubuh

MCT merupakan asam lemak unik yang mempunyai rantai karbon dengan panjang dari C6- C12 yang bersifat jenuh (asam kaproat, kaprilat, kaprat, dan laurat). MCT diperoleh melalui proses esterifikasi gliserol dengan asam lemak yang mempunyai rantai karbon C6   dan C12   yang diturunkan dari minyak berkadar laurat tinggi, terutama minyak kelapa. Tahapan prosesnya melibatkan hidrolisis minyak laurat bermutu tinggi, fraksinasinya menghasilkan asam lemak C6 – C12.

MCT dimetabolisme di dalam tubuh dengan cara yang berbeda dengan LCT, karena pengaruh perbedaan kelarutannya didalam air. MCT dimetabolisme seperti halnya karbohidrat. MCT lebih cepat terhidrolisa, lebih lengkap daripada LCT,dan lebih cepat terserap.Sifat kelarutan MCT didalam air yang lebih tinggi sehingga MCT dapat memasuki sistem sirkulasi, masuk ke dalam liver secara langsung melalui pembuluh darah balik (vena) dan dengan cepat dibakar menjadi energi, yang berarti MCT tidak tersimpan (tertimbun) didalam jaringan tubuh. Sifat MCT yang tidak termetabolisme seperti lemak konvensional, dapat menjadi sumber energi yang baik bagi individu yang mengalami gangguan penyerapan   lemak, seperti ketidak mampuan untuk membentuk asam bile atau ketidak mampuan untuk membentuk enzim dengan jumlah yang cukup untuk metabolisme LCT. Berbeda dengan LCT, MCT diserap kedalam usus dan oleh karena itu tidak memerlukan enzim atau asam bile seperti dalam proses metabolisme LCT. Individu yang tidak mampu memetabolisme LCT akan dapat memperoleh lemak dan vitamin yang larut dalam lemak yang diperlukan dengan mengkonsumsi MCT. Bila terhidrolisa, MCT akan terserap kedalam usus kecil terutama sebagai asam lemak bebas. Setelah diserap usus, MCT terikat dengan albumin serum dan meninggalkan usus melalui pembuluh darah balik (vena) menuju hati. MCT dioksidasidi dalam hati membentuk keton tubuh dan diedarkan sebagai energi dengan cepat. Energi dari MCT dikirim ke seluruh tubuh agar keton segera dapat dimanfaatkan (Bach and Babayan, 1982) dalam (Syah & Sumangat, Deptan).

MCT berbeda dengan lemak dan minyak konvensional dalam dua hal penting, yaitu:

Pertama,

MCT tidak termetabolisme melalui pembakaran seperti halnya lemak dan minyak, tetapi didalam hati seperti halnya karbohidrat. Oleh karena itu tidak tersimpan sebagai lemak cadangan melainkan dibakar sebagai energi.

Kedua,

Lemak dan minyak konvensional menghasilkan energi 9,0 kkal/g, sedangkan MCT menghasilkan8,3kkal/g, dua kali lebih besar dari jumlah energi yang dikirim oleh glukosa. Namun, kajian terhadap hewan dan manusia menunjukkan bahwa MCT sebenarnya menghasilkan energi sebesar 6,8 kkal/g, 25% penurunan dari lemak konvensional. MCT bukan hanya menawarkan kandungan energi yanglebih rendah, karena MCT tidak termetabolisme seperti lemak,maka MCT tidak akan tersimpan di dalam jaringan tubuh. MCT sangat sesuai untuk formula penurunan lemak dan pengurangan kalori, seperti bahan panggang, produk berkadar gula (permen) atau margarin, karena MCT akan membantu mempertahankan tekstur lemak secara keseluruhan. Penelitian menunjukkan bahwa pola makan dengan kandungan MCT sampai dengan 100g/hari masih dalam batas toleransi. Dilaporkan bahwa MCT mengambil 40% total energi tanpa efek yang negative (Bach and Babayan, 1982) dalam (Syah & Sumangat, Deptan).

Salah satu sumber MCT yang ketersediaanya berlimpah di Indonesia adalah minyak kelapa. Minyak kelapa yang mengandung 92,1% lemak jenuh, setelah dikonsumsi sesampainya didalam saluran pencernaan, karena ukuran molekulnya yang kecil (medium size), segera dapat diserap melalui dinding usus, tanpa harus mengalami proses hidrolisis dan enzimatis, dan langsung dipasok kedalam aliran darah dan dibawa kedalam organ liver untuk dimetabolisasi. Didalam liver minyak kelapa ini diproses untuk memproduksi energi saja dan bukan kolesterol dan jaringan adiposa. Energi yang dihasilkan digunakan untuk meningkatkan pembakaran seluler dari ujung rambut sampai ujung kaki dan mengaktifkan fungsi semua kelenjar endokrin, organ tubuh, dan jaringan tubuh. Sementara minyak kelapa sawit karena kadar asam lemak jenuhnya lebih rendah dari pada minyak kelapa (45,2%) dengan sendirinya energi yang dihasilkan juga lebih rendah. Sementara itu minyak sayur (minyak kedelai, jagung, dan lain-lain) yang mengandung sekitar 85-90% asam lemak tak jenuh, karena ukuran molekulnya besar-besar (longsize) tidak langsung diserap kedalam liver seperti pada minyak kelapa. Minyak tersebut harus diproses dan diuraikan dahulu menjadi unit asam-asam lemak bebas ukuran kecil (free small units fatty acids) melalui proses hidrolisis dan emulsi dengan bantuan cairan empedu dan proses enzimatik dengan enzim yang berasal dari kelenjar pankreas. Setelah diuraikan menjadi unit-unit asam lemak bebas (free fatty acids units), unit-unit inilah yang diserap melalui dinding usus dan ditampung didalam saluran getah bening (lympatic lacted ducts). Uraian unit-unit asam lemak bebas tersebut kemudian disusun kembali dan senyawa protein menjadi chylomicron/lipoprotein. Lipoprotein tersebut inilah yang kemudian dipasok kedalam  liver (Bach and Babayan, 1982) dalam (Syah & Sumangat, Deptan).

Sumber MCT

“Rivers and Given” from University of New Zealand menuliskan bahwa “ MCT are found naturally in dietary source such as coconut oil, palm kern oil and butter. MCT product are often included in sport bar and protein powder supplements”. A person can only tolerate 25-30 g of MCT in one serving.

coconut

Kesimpulan

Berdasarkan uraian tentang MCT dapat disimpulkan bahwa MCT :

  1. Penyerapan lebih bagus sehingga cocok untuk pasien kritis
  2. MCT tidak membutuhkan carnitin untuk masuk kedalam sel (Carnitine independent pathway)
  3. Penyerapan MCT lebih cepat daripada LCT
  4. MCT langsung dibakar, tidak disimpan, sehingga tidak menyebabkan gemuk
  5. Menghasilkan 8,3 Kal/gram
  6. Sumber energi untuk bayi premature. Tidak boleh > 50% total fat.
  7. Menurut FDA, MCT termasuk aman
  8. Tidak berefek terhadap imun sistem
  9. Bisa diserap langsung tanpa melalui proses emulsi (empedu) dan langsung masuk ke vena porta
  10. MCT tidak mengalami proses hidrolisis dan enzimatis, dan langsung dipasok kedalam aliran darah dan dibawa kedalam organ liver untuk dimetabolisasi.
  11. Apabila dikonsumsi berlebihan maka akan terbentuk keton bodies. “Rivers and Given” from University of New Zealand menuliskan bahwa MCT tidak seharusnya diberikan untuk penderita DM karena MCT dapat meningkatkan keasaman darah karena produksi keton bodies yang meningkat.
  12. Tidak mengakibatkan hiperglikemia
  13. Mempunyai efek sedikit hipoglikemia karena MCT meningkatkan pelepasan insulin dan menekan hepatic glucose output.

Refference

  1. Rivers, Stacey & Given, Jodie.MCT Oil :Helful or Harmful. Massey University , University of new Zealand
  2. Syah, Andi Nur Aalam & D. Sumangat. MCT :Trigliserida pada minyak kelapa dan pemanfaatannya.Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian (digilib.litbang.deptan.go.id)
  3. Adopted materi by Ongko Susetya (Lecturer of UB Malang)

(By Yetti Wira Citerawati SY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s