Se (SELENIUM)

Selenium merupakan mikromineral yang memiliki kemampuan antioksidan yang berasal dari selenoprotein. Almatsier, 2003 menuliskan bahwa jumlah selenium dalam tubuh sebanyak 3-30 mg, bergantung pada kandungan selenium dalam tanah dan konsumsi makanan. Konsumsi orang dewasa berkisar antara 20-30 µg bergantung pada kandungan tanah. Beberapa dekade ini selenium dikenal dalam perannya sebagai antioksidan. Dalam Cancer counsil, 2009 menuliskan bahwa Selenium membantu mencegah kerusakan jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas. Selenium bertindak sebagai antioksidan dan membantu melindungi tubuh terhadap efek merusak dari radikal bebas. Selenium sangat penting untuk aktivitas glutation peroksidase, enzim yang melindungi terhadap ROS dan kerusakan terhadap membrane sel.

Mekanisme kerja selenium terhadap kanker dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Presentation2-crop

KERJA SELENIUM

Kerja selenium meliputi :

  1. Kemampuan memprotek terhadap kerusakan DNA dengan merangsang efektif imun.
  2. Menghambat pertumbuhan dan apoptosis sel. Menghambat AP-1 (selular oncogen untuk pertumbuhan sel)
  3. Merangsang seleno-diglutatione menekan tumor dengan memproduksi (P-53). (P53 merupakan tumor supresor protein dan menyebabkan apoptosis sel kanker).
  4. Menghambat release cytokine : IL-8 (IL-8 = promosi metastasis dan angiogenesis). Selenium melakukan aksi memblok sel-sel normal agar tidak berubah menjadi sel kanker.

 FUNGSI SELENIUM

Penelitian yang telah banyak dilakukan tentang selenium, menambah daftar begitu banyak fungsi selenium bagi tubuh manusia. Grober, 2012 dan Fairweather-Tait et al, 2011 menuliskan beberapa fungsi dari selenium, yaitu :

1. Selenium merupakan kofaktor regulatori dan katalitik untuk protein (enzim) yang mengandung selenosistein. Beberapa protein yang mengandung selenosistein :

  • GSH-peroksidase (GSH-Px) : Detoksifikasi hydrogen peroksida dan lipid hidroperoksida.
  • Tioreduksin reduktase (TrxR) : Reduksi disulfide menjadi gugus SH (misalnya GSSG menjadi GSH), regulasi faktor transkripsi yang sensitive terhadap redoks (contohnya NF-kB), pelipatan protein, biosintesis DNA, regenerasi beberapa antioksidan, termasuk vitamin C dan ubikuinol
  • Iodotironin deiodinase (tiroid) : konversi tiroksin (T4) menjadi triiodotironin (T3) yang aktif secara biologis
  • Selenoprotein P : Penyimpanan/transport selenium, perlindungan endothelium (pemecahan spesi nitrogen reaktif, seperti peroksinitrit).

2. Fungsi protektif antioksidan (GSH-Px, selenoprotein P, TrxR) : proteksi eritrosit, membrane fosfolipid,PUFA, dan organel sel.

3. Imunokompetensi (seluler,humoral) : Proliferasi limfosit, produksi sitokin, sintesis gamma interferon, aktivitas sel T dan sel NK yang sitotoksik, produksi antibody.

4. Aktivitas antikarsinogenik : kerja antiproliperatif dan proapoptotik pada sel tumor, inaktivasi segmen gen onkogenik, aktivitas antivirus antioksidatif, antimutagenik, potensiasi imunokompetensi humoral dan seluler

5. Metabolism hormone tiroid : aktivasi tiroksin (T4) menjadi Triiodotironin (T3) (deiodinase) defisiensi selenium dapat memperburuk efek defisiensi iodine.

6. Metabolism inflamasi: penghambatan faktor transkripsi yang sensitive terhadap redoks (misalnya NF-kB) dan prostaglandin /leukotrien proinflamasi, sitokin regulasi.

7. Proliferasi dan diferensiasi sel (TrxR : Interaksi dengan faktor transkripsi sensitive-redoks)

8. Sinergi dengan vitamin E, detoksifikasi (misalnya cadmium, merkuri). Selenium tampaknya membantu aktivitas vitamin E dalam menghambat lipidperoksidasi.

ANGKA KECUKUPAN GIZI UNTUK SELENIUM

AKG Se

Cancer Council supports the National Health and Medical Research Council menganjurkan intake makanan sumber selenium sebanyak 70 µg/hr untuk pria dan 60 µg/hr untuk wanita, dengan batas asupan tertinggi sebesar 400 µg/hr ( 6 kali lebih besar dari asupan normal selenium) (Cancer counsil, 2009).

SUMBER BAHAN MAKANAN

Selenium ditemukan dalam sereal, daging, telur, seafood dan ikan. Sereal menyediakan sekitar 50% selenium (Cancer counsil, 2009).

sumber selenium

 

INTERAKSI DENGAN OBAT/NUTRIEN

Interaksi antara selenium dengan obat/nutrien adalah sebagai berikut :

  1. Gangguan absorpsi selenium : alkohol, antacid, laksatif, kemoterapi kanker,zink, dan vitamin C (Natrium selenit)
  2. Penurunan konsentrasi selenium serum : alkohol, klozapin, kortikoid, diuretik, asam valproat, kemoterapi kanker (misalnya sisplatin, doksorubisin)
  3. Gangguan status selenium : kemoterap/radioterapi, defisiensi vitamin B6 (Grober, 2012)

 TANDA DAN GEJALA DEFISIENSI

Grober, 2012 menuliskan beberapa tanda dan gejala defisiensi Selenium :

  1. UMUM : Kerentanan terhadap infeksi, kelelahan dan depresi
  2. DARAH : Hemolisis, peningkatan sintesis methemoglobin, penurunan aktivitas GSH-Px
  3. FERTILITAS : Sub-fertilitas
  4. KULIT : Eritematosa
  5. HORMON : Disfungsi tiroid (Penurunan T3)
  6. SISTEM IMUN : Imunodepresi, peningkatan kerentanan terhadap alergi (Perubahan Th1/Th2)
  7. JARINGAN OTOT : Miopati, kelelahan, astenia
  8. KANKER : Dapat meningkatkan insiden dan mortalitas (terutama prostat, kolon)
  9. PENYAKIT KESHAN : Nekrosis miokardial/kerusakan reperfusi (Kardiomiopati)
  10. PENYAKIT KASHIN-BECK : Degenerasi kartilago artikular antarsendi (osteoarthritis

Selanjutnya Fairweather-Tait et al, 2011 menuliskan efek selenium terhadap kesehatan yaitu :

1.Penyakit Kardiovaskuler

Penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa terhadap asosiasi biomarker selenium dengan CHD (Coronary heart Disease). Berdasarkan penelitian percobaaan klinis yang dilakukan bahwa suplemen selenium dapat mencegah CHD.

2.Kanker

a. Kanker Gastrointestinal

Metanalisis yang dilakukan pada lima penelitian yang dipublish pada tahun 2007 yaitu meneliti efek selenium terhadap kanker gastrointestinal. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa suplementasi selenium diasosiasikan dengan penurunan sekitar 25%-60% kejadian kanker gastrointestinal (included kanker esophageal, gastric, small intestine, colorectal, pancreatic, liver and biliary track).

b. Kanker Prostat

Studi case control di United State menunjukkan bahwa konsentrasi serum selenium > 151 ng/ml berhubungan dengan terjadinya penurunan resiko kanker prostat dibandingkan dengan kadar serum selenium dibawah 119 ng/ml. Dalam beberapa studi, salah satunya yang dilakukan oleh World Cancer Research , 2007 menunjukkan bahwa selenium dan suplemen dapat mengurangi resiko terjadinya kanker prostat, namun penelitian ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.

c. Kanker payudara

Study terbesar yang dilakukan yaitu untuk melihat asosiasi antara beberapa polimorpism dalam 10 kunci gen yang dihubungkan dengan perbaikan kerusakan oksidatif pada > 4000 wanita dengan kanker payudara berkaitan dengan dua polimorpism pada GPx4 dengan meningkatnya resiko kematian. Studi baru-baru ini melihat hubungan selenium dengan faktor genetic BRCA 1. Penulis memperkirakan suplementasi selenium bermanfaat untuk carrier BRCA1 dan menurunkan kerusakan yang terjadi pada kromosom.

Selanjutnya diketahui pula efek genotip dan polimorpism dikaitkan dengan selenium dan resiko kanker. Variasi SNPs dalam selenoprotein gen SEPP1, GPX1, GPX4 dan SEP15, dihubungkan dengan resiko kanker pada manusia (kanker paru, colorectal, kepala dan leher, prostat, payudara, kandung kemih, hati, dan lymphoma).

3.Diabetes mellitus

Penelitian tentang peran selenium pada diabetes tipe 2 yang dilakukan oleh Febiyanto et al, bahwa semakin tinggi kadar konsentrasi selenium baseline maka akan semakin tinggi risiko terkena DM tipe 2, dan sebaliknya. Teori yang dapat menjelaskan kejadian ini ( peningkatan resiko DM tipe 2 pada konsentrasi selenium baseline tinggi ) adalah adanya penghambatan spesies oksigen reaktif (SOR) sebagai second messenger pada penyignalan insulin, inkorporasi non spesifik selenometionin pada protein serum, serta pengurangan jumlah adiponektin yang dirangsang oleh tingginya konsentrasi selenoprotein p (SEPP). Pada subyek dengan kadar selenium baseline rendah atau adekuat, kadar selenium dalam jaringan serta konsentrasi GPx dan SEPP akan mencapai kadar yang optimal setelah suplementasi, sehingga mekanisme yang merangsang peningkatan resiko DM tipe 2 tidak akan terjadi.

Kesimpulan dalam penelitian ini menyebutkan bahwa subyek dengan kadar selenium baseline yang rendah/adekuat akan memiliki GPx dan SEPP dalam kadar yang optimal setelah suplementasi sehingga mereka akan mendapatkan perlindungan dari timbulnya resiko DM tipe 2. Namun, setelah kadar maksimal terlewati, selenoprotein tadi akan mengganggu penyignalan insulin dengan menghambat SOR yang penting dan dengan menurunkan kadar adiponektin.

4.Inflamasi

Selenium dapat mempengaruhi respon inflamasi, termasuk menghambat kaskade NF-kB, yang menginduksi produksi interleukin dan TNF-α (Tumor nekrosis factor –α).

5.Kesuburan

Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Selenium berperan dalam spermatogenesis pada pria dan kualitas semen (seperti jumlah sperma, volume semen, motility dan morphologi),dan kaitan selanjutnya juga menunjukkan bahwa selenium juga berhubungan dengan masalah reproduksi wanita seperti preeclampsia dan keguguran.

 PENELITIAN LAIN

Penelitian yang dilakukan oleh Rusiati, 2013, dimana peneliti melakukan percobaan, dengan meningkatkan kadar selenium pada tauge yang rendah akan kadar selenium. Dari penelitian tersebut tauge yang direndam dan disiram dengan larutan selenium memiliki kandungan selenium yang tinggi. Dalam penelitian tersebut menghasilkan bahwa tauge yang diperkaya dengan 1 µg/ml sodium selenite lebih direkomendasikan untuk dibudidayakan dan dikonsumsi.

 SUPLEMEN SELENIUM

Suplemen selenium terdiri dari :

1. Selenometionin

Suatu bentuk organic selenium yang tersedia secara alami dalam makanan, sekitar 90% diabsorpsi. Sebagian selenometionin yang dikonsumsi tidak secara spesifik bergabung ke dalam protein tubuh dalam menggantikan metionin dan bertindak sebagai bentuk depot selenium.

2. Natrium selenat

Natrium selenat hampir seluruhnya terabsorpsi, tetapi dalam jumlah yang banyak dieksresi dalam urine sebelum senyawa tersebut dapat bergabung ke dalam selenoprotein. Natrium selenit hanya sekitar 50% diabsorpsi tetapi lebih baik ditahan daripada selenat saat diabsorpsi.

3. Ragi selenium

Ragi selenium, suatu sumber selenometionin, digunakan untuk uji pencegahan kanker pada manusia dan cocok untuk suplementasi selenium nutrisional dalam jangka panjang. Sebagai komplementer terapi kanker, bentuk anorganik natrium selenit biasanya lebih dipilih daripada selenometionin karena bagian dari selenometionin yang teringesti tidak secara spesifik tergabung ke dalam protein tubuh sehingga dapat terakumulasi didalam tubuh. Selain itu, selenium yang berasal dari natrium selenit secara langsung tersedia untuk biosintesis selenoprotein dan dapat dikendalikan dengan lebih baik secara terapeutik (Grober, 2012).

 Tabel 1 menunjukkan beberapa suplemen Selenium dan dosis yang digunakan untuk beberapa penyakit ( Grober, 2012)

Tabel 1. Suplemen Selenium

Slide1Slide2Slide3Slide4Refference

  1. AKG 2012 dalam Pedoman PGRS Pelayanan Gizi RS. 2013. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
  2. Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
  3. Adopted materi by Ongko Susetya (Lecturer of UB).
  4. Cancer council. 2009. Selenium. Public Health Comitee. Cancer Councill Australia, http://www.cancer.org.au
  5. Fairweather –Tait, Susan J., Y Bao., MR Broadley., R. Collings., D Ford., JE Hesketh.,and R Hurst.       2011. Selenium in Human Health and Disease. School of Medicine, Health Policy and Practice, University of East Anglia, United Kingdom
  6. Febiyanto, Novian., C Yamazaki., S Kameo., DK Sunjaya., DMD Herawati., GI Nugraha., dan H Koyama. Peran Selenium pada Diabetes Type 2: Sebuah Kontradiksi. FK UNPAD Indonesia dan       Pascasarjana Kedokteran Universitas Gunma Jepang.
  7. Grober, Uwe. 2012. Mikronutrien : Penyelarasan Metabolik, Pencegahan dan Terapi. Editor Edisi Bahasa Indonesia, Juli Ita Panggabean. EGC, Jakarta.
  8. Rusiati, 2013. Penambahan Selenium dalam tauge dan Analisa Spesies Selenium. Tesis yang dipublikasikan, Pascasarjana UNPAD (Bandung, Indonesia).

(By Yetti Wira Citerawati SY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s